00.00 WIB
00.00
Hari ini, langit menunjukan kegelapannya pada bumi. Kucing yang tidur ditemani cahaya rembulan.
Seorang gadis, menangis sambil mengusap air mata. Berita yang masih hangat dimatanya membuat ia tak bisa bersuara keras ketika itu.
Suasana sunyi menghadirkan kedukaan. Nafas yang perlahan dan pelan tak mampu menggambarkan suasana kala itu.
Fanny, memandangi wajah ibunya. Tak ada gambar yang tampak selain pita rekaman kenangan dua manusis kala itu.
Ketika ia menjadi gadis mungil tangguh. Membersihkan, Muntahan, feses, bahkan membopong tubuh ibunya dalam hari,waktu, bulan yang berbeda. Hitungan yang lidah dan mata tak sekadar melihat namun merasakan. Ia hadir, ia ada dalam situasi yang seperti itu.
Tubuh ibunya telah lama dalam kondisi tidak sehat. Penyakit diabetes menghampiri . Tidak lama, hanya 15 tahun lebih. Tetangga yang melihat dalam pandangan mata mengatakan baru hari kemarin. Sekedar Bisikan-bisikan burung yang menusuk jantung Fanny kala siang itu. Ia masih gadis polos belasan kala itu. Ibunya, tak berani keluar rumah hingga saat ini karena mulut yang tak diluruskan. Gadis itu menemani tangis ibunya, berhara lp tubuhnya menjadi perisai hidup. Usapan tangannya, pelukannya, berbagi jadi satu dengan ibunya. Tak terukur senyum ibunya yang harus ia kembalikan.
Waktu berikutnya, ia menghampiri ibunya. Mengatakan bahwa makanan telah tersaji, kulit bawang telah dipisah dan kacang telah terkumpul dengan bersihnya. Hari itu, bertepatan idjl fitri. Fanny, berlembur dengan ketupat, rendang, opor, dan beberapa macam persiapan yang tidak sedikit. Malam itu, jam dinding yang telah kusam berdebu berbaik hati menunjukan angkanya. 02.34 dini hari. Ia sendiri, benar-benar sendiri. Kalender mengatakan, tahun ini sudah kali berapa tak ada yang menemani. Sekadar membantu membuat air teh hangat di malam yang dingin. Ayahnya, saat itu telah menua. Usia 60-an. Memberi sentuhan kata. "Nduk, koe masih neng dapur yo. . .? Wes, istirahat wae, sesok gawe meneh".
Matanya menangis. Ia beralasan, jika berhenti. Maka "esok tak jadi lebaran." Ucapan sederhana sarat makna. Dirumah kecil tak bertingkat. Ayahnya, babeh panggilannya. Membantu tak banyak dengan tubuh yang gemetar. Bujukannya berhasil untuk meminta gadis mungil beristirahat sekadar memejamkan mata yang telah mengantuk dihujani rasa lapar. Ibunya, entah kenapa memiliki rasa keinginan dan kedekatan pada gadis ini dalam semua keperluan rumah. Hanya ia yang tangannya terampil, halus, dan luwes. Menjadi doa mengalir dari lidah ibunya di waktu-waktu lainnya.
Hari itu dan beberapa tahun kemudian. Ayahnya yang perhatian dengan merangkul semua anak-anaknya wafat. Tahun 2026 bulan Maret. Ia mengalami kedukaan yang mengguncang. Getaran kesedihan yang menyelimuti hatinya kembali muncul. Malam ini, ia dikabarkan bahwa Ibunda yang ia sayangi telah wafat. Dua pundak berlalu meninggalkan gadis mungil yang tak beranjak dewasa secara kenangan.
Disepanjang jalan yang diselimuti gelap. Lampu penerangan tak benar-benar membantu. Ia hidup redup. Menerangi langkah tertatih luka baru. Luka lama tentang bapak belum juga pulih. Ia. . . Menatap depan, bukan dengan percaya diri. Ukiran kata, kalimat, dan perbuatan mengalir dipipi gadis itu.
Sesampainya dirumah, ruangan telah ramai. Ruangan yang sunyi. Air mata keluar. Namun suara tak terdengar keras. Gadis mungil yang telah runtuh dipukul kesedihan ketika melihat wajah sang ibunda. Keriput, pucat, dan dingin. Pundak yang dipaksa untuk tegar tak mampu dihati setiap orang. Kenangan indah menembus ruang dan waktu. Menaburkan kepahitan hidup yang terus berlanjut.
Kini, ia memegang kembali. Tangan yang menghentikan tetes air mata kala itu. Ia datang, seperti sediakala dahulu ia selalu merajut senyum ibundanya. Dimasa-masa sehat, dimasa-masa foto ia manfaatkan dengan baik.
Malam yang panjang. Ditutup dengan suara mamak yang serak, tua, khas dengan berat keibuannya.
" Niii, mamak udah sehat. Mamak udah sembuh. Tidak sakit lagi. Kamu jangan nangis lagi ya. Ini duit untuk anakmu, suruh makan. Biar tidak kelaparan." (Mamak bicara bahasa jawa yang diterjemahkan)
Fanny terdiam, ia senang mamaknya berbicara dan tersenyum lebar. Ia mendekat dan Hanif mengambil uang itu.
Fanny mungil tersenyum dan menangis sembari air mata membasahi pipinya. Ia tidur dalam mimpi yang indah. Berpamitan dengan raga dan jiwa dalam mimpi.
00.00 WIB, 09 April 2026, Ibundanya telah wafat.
Komentar
Posting Komentar