"Suryakanta, Temukan Kehangatan Seperti Matahari Terbenam yang Memeluk Bumi". ( Ricky Prabowo)

Matahari mengantar sinarnya turun ke daratan dengan malu-malu. Menatap diriku dengan tajam menyilaukan mata. Pada pukul 08.55 bertanggal kalender 25 Maret 2026 . Aku ayunkan kakiku dengan bobot badan 56 Kg menuju motor, kuhidupkan mesin. Ban berputar menyapu jalanan ke Perpustakaan Provinsi Daerahku.

Senyumku lebar setiba ditempat. Mengingat kembali tentang rak terisi buku ( perpustakaan). Dompetku telah menyelami "kartu hidup tak bicara" tentang perpustakaan sejak tahun 2013. Mataku lebih sipit dan jantungku bergemuruh melihat kembali kartu-kartu ini. Ada debu jalanan yang menjadi teman setiap keberangkatan.

 Gambar 1 : Kartu Perpustakaan Provinsi

Kartu hidup ini adalah idola dalam merawat ingatan. Ia sering kugandeng menjadi pelipur lara saat "kemarau" bahan bacaan. Euforia-ku mengingat dalam guratan usia kartu ini. Hari itu langit gelap, seakan menahan sesuatu yang berat. Aku masuk ke Perpustakaan Provinsi Lampung untuk mendaftar menjadi salah satu bagian kecil literasi. Aku menjadikan perpustakaan ini sebagai salah satu langkah ketika tak menemukan referensi. Bahan yang aku punya sedikit. Tempat ini, menjadi menjernihkan fikiran bagi insan yang ingin membuka jendela dunia. Meresapi huruf menjadi kata berlanjut menjadi kalimat yang diakhiri titik. Sunyi-syahdu yang membekas seperti air membuat dingin dan sejuk. Membuat candu siapapun yang memasuki ruangan lintas fikiran yang membuka pintu wawasan dunia.

Gambar 2 : Kartu Perpustakaan Komunitas
Gambar 3 : Bertanda tahun 2013

Kartu ini saat aku mendapati sepasang manusia ketika, mencoba membuat perpustakaan di desaku. Tak banyak yang mengantri saat itu, kuberanikan diri untuk mengambil tempat di belakang yang bisa kuhitung jari. Maklum, saat itu tak banyak yang mengabdikan buku untuk jendela dunia. Ketika sampai diloket pendaftaraan, aku katakan aku ingin menjadi anggota yang "menyentuh huruf demi mengakhiri titi". Petugas tersenyum lebar. Cap stempel persetujuan mendarat. Aku melihat beberapa buku yang menarik. Sebut saja " Hellen Keller" seorang wanita yang buta-tuli. Tak mendengar tak melihat. Oleh karenanya, menciptakan metode Braile sebagai alat utama membaca dan menulis

Gambar 4 : Sebuah Adiwarna yang telah berlalu.

Kartu ini, peta jalan dalam semasa penuh tantangan. Membuka setapak jalan yang masih semak-belukar di desaku. Aku tak habis fikir, sampai sore pernah kudapati ruangan sepi hanya diriku mencari refrensi. Aku pernah bernyamuk-nyamuk karena saat itu belum ada AC. Membaca buku Soe Hok Gie, seorang aktivis orde lama. Ia "berdarah-darah" dalam kritik kepada Bung Karno karena hidup bermewah-mewahan ditengah kemerosotan-kemiskinan penduduknya.

Ada juga suasana aku bersama kawan-kawan kelas jurusanku. Mencari buku, jurnal bahkan kliping koran dijadikan sumber. Saat itu kami ingin membuat makalah. Hampir sedikit sekali tahun 2014 penggunaan internet memenuhi beranda hp yang masih belum sebagus sekarang.

Ketika selesai, kami semua sudah senyum lebar. Memberi petugas hasil pinjaman yang kami bawa. Kejadian lucunya, kartu sakti anggota dari aku dan beberapa kawanku tak dimasukkan ke dompet. Alhasil, pencarian sumber yang memeras waktu tak dapat dibawa pulang. Petugas menatap kami dan tertawa. Kami pun tertawa sambil saling tatap. Hari itu, memang hari yang indah ketika mengingat sekarang mudahnya mencari sumber di interner bahkan Perpustakaan Nasional telah ada Literasi Digital.

Gambar 5 : Istriku, Wanita perindu buku

Istriku, teman seperjalanan cerita adalah salah satu penyokong kutu buku. Ia menjadi baswara ( cahaya) dalam hal tersebut. Ia bercerita, bahwa ia memiliki buku-buku pelajaran yang tiap malam ia ulang dan baca kembali. Ia stabilo kata-kata yang memiliki makna penting. Tak jarang, ia sampai menggulung kantung matanya ketika larut malam. Di sekolah, kegemarannya membawa ke perpustakaan sekolah ketika jam istirahat. Ia pernah tak jajan untuk makan dan minum. Ia wanita yang sangat besar keinginannya untuk pandai dan berfikiran lurus.

Gambar 6 : Kreasi Busana Daerah Indonesia

Jika kuingat, aku pernah juga meminjam beberapa buku yang mana aku memandangi bacaan, gambar, dan tulisan-tulisan yang umumnya tidak sedetail ini. Buku yang kupinjam di perpustakaan  pernah ingin kumiliki. Pada waktu beberapa bulan lalu dapat kubeli di bazar buku kota tempat kutinggal. Bersyukur sekali.

Buku ini diterbitkan atas prakarsa Ibu Bhayangkari Kepolisian RI Tahun 2018. Menitikberatkan pada visualisasi ciri khas setiap daerah dari Provinsi Aceh hingga Papua. Semuanya diberikan rangkuman yang memadai dan menyeluruh. Fikiran kita dibawa berkelana membayangkan visual gambar pakaian modern beserta modelnya. Berbicara secara tak langsung bentuk dan tata pemakaiannya.
Gambar 7 : Isi dalam beserta tulisan

Pemberian bentuk deskripsi setiap halaman penuh dengan paparan kalimat, makna, dan aspek latar belakang.
Gambar 8 : Jam Ajaib Kakek Berto

Mata yang memandang buku ini mungkin mengira bahwa ini adalah buku tentang sihir. Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Di bagian cerita, berkelana seorang cucu dari Kakek Berto yang belajar jam lewat adegan manis, lucu dan menghibur. Kakek Berto yang baik akan mengajak dirimu belajar lebih dalam dengan situasi dan kejadian berkaitan dengan jarum jam dan penentu jam.

Gambar 9 : Funiculi Funicula

Waktu yang kita bahas sebelumnya, mungkin awal dari latar belakang buku ini. Maksudku, buku ini masih berhubungan dengan waktu. Lintas lorong mengajak kita menyadari bahwa arunika (cahaya Matahari) berganti, berjalan dan menjadi malam. Pada akhirnya, manusia menyadari bahwa tak dapat mengulang waktu. Buku ini, memberi kita ruang hidup dalam beberapa hal yang dapat kita ketahui jawabannya dan merubah keadaan tanpa merubah masa depan. Meskipun begitu, apa yang kita ketahui dan kita ulang hanya selesai dalam secangkir kopi. Karena, masa depan akan punya aliran jalannya sendiri. Kita yang menyesal dengan suatu keadaan mungkin ingin sekali merubah keadaan tersebut bahkan, berada dalam waktu tersebut. Menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri.

Gambar 10 : Perpustakaan Provinsi Lampung (Gambar Google)

Setiba pada sandyakala (gurat senja cahaya merah) di penghujung lorong penutup. Aku membawa kembali ingatan-ingatan tersebut kepada kita semua dalam rangka merawat ingatan. Membawa buku-buku yang kusenangi dan kugemari. Memperkenalkan literasi pada khalayak ramai, bahwa, buku bukan hanya kertas. Ia sarat akan makna yang menjamu menjadi obat hati dan fikiran. Selurus manusia bertutur, tak ada yang panjang dan serapi tulisan yang dirangkai sedimikian rupa. Penuh emosional, haru dan keberanian berkata dalam lontaran huruf, kalimat dan titik.
Gambar 11 : Awal perkenalan dengan dunia ilmiah dan perbukuan

Akhir kata dalam, diriku yang telah sedikit mengetahui tentang kegemaran membaca. Dapat menjadi motor penggerak peradaban literasi Indonesia. Menjadikan literasi sebagai lilin yang amerta ( abadi) dalam jengkal dan langkah di tanah yang kita injak dan lari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fanny Wants To Be A Daisy Flowers ( Bagian Pertama )

🌲 16.00.🌲