๐ฒ 16.00.๐ฒ
Tiket Yang sedari kemarin tergantung di tembok depan kamar. Kesepian dalam balutan ruang yang kami isi dalam keseharian. Kebetulan Fanny si Mungil menyuarakan ide untuk menukarkan tiket tersebut. Fikiran diriku setuju karena tiket ini sudah lama ingat si Mungil menghabiskan lebih kurang 200 ribu itupun sudah bulan Juni tahun ini.
Tibalah saat aku menggoyangkan motorku dari tempat parkiran hari ini. Pukul 16.00 aku melayangkan kaki yang aku jejaki. Kuremas gas yang sedari pagi telah aku hidup-kan untuk menapaki aktifitas rutinku sebagai "Gemar Memoles Cangkir".
Aku sedang memasang foto diriku yang bersiap. Saat diperjalanan aku menikmati mobil-motor didepanku. Nafas vital yang tak kenal lelah dengan deru angin yang pelan. Angin berbisik dengan aksen yang menyenangkan yang membuatku tak menangis lagi. Ia memainkan musiknya sendiri dengan irama wajah tersenyum.
Sampailah aku dirumah. Istri dan anakku telah menunggu didepan gang dengan skenario yang tak sama seperti kemarin. Kami berangkat setelah kami mempersiapkan kelengkapan dirumah.
Sampailah aku dirumah. Istri dan anakku telah menunggu didepan gang dengan skenario yang tak sama seperti kemarin. Kami berangkat setelah kami mempersiapkan kelengkapan dirumah.
๐ฎ 16.40 ๐ Arah Jalan
Hanif mendahului dengan menurunkan kaki. Diikuti dengan Mungil yang cukup sulit turun. Maklum dalam tubuhnya telah ada janin yang telah berumur 8 bulan. Hamil Tua. Memasuki Simpur Center kami berhenti tepat di pintu lift. "Ayah, ini bener lift ke atas. Kok aku gak pernah tau ini ada lift" aku melirik angka diatas lift dan bergumam " sejujurnya, aku juga baru tau seumur-umur ke Simpur. 30 Tahun Lohhh dekkk"๐. Kami meramu tawa dalam percapakan tersebut. Barangkali kami memang kudet dalam memandangi pertumbuhan tubuh Simpur.
Setelah kami memasuki lift, kami menjumpai tombol dan mulai menekan. Kamu memandangi tulisan berlabel petunjuk lantai. Tekan satu. Lift dengan kaki besinya mengajak kami memulai adegan gravitasi sesaat yang membuat kepala naik puncak nirwana.
Langkah kaki keluar dan Hanif berlari dengan wajah senang dan senyum yang khas. Menggambarkan wajah bahagia. Aku,mungil dan Hanif menuju tempat penukaran tiket. "Maaf mbak, saya ingin tukar tiket Fun City" pungkasku setelah sampai depan lobi ticket exchange. " Oh ya, boleh pak silahkan kesini". Kami menunggu dan menukarkan uang bukan tiket karena ingin bermain. Beberapa lembar dikeluarkan. Terlihat 20 ribu lusuh dan memberanikan pergi dari tempat nyamannya uang tersebut perpindah tempat.
(Ex : Foto Hanif bersama kereta )
๐ Lantai Tersenyum๐พ
Kaki kami mulai menyusuri beberapa permainan yang kami mulai sore hari ini.
Hanif berkeliling mencoba permainan kereta. Aku lihat ia menjadi diri sendiri dalam dunia anak-anak yang masih lugu dan lucu. ia tak lagi anak bayi yang kami besarkan 4 Tahun lalu. Kilas wajahnya saat ini telah lebih mantab dan kuat.
Setelah bermain kereta, aku, Hanif dan mungil berpetualang ringan mencoba bola-bola terbang, pancingan ikan yang Hanif dapat sangat cukup memuaskan. Bola tekan yang terjatuh ke lubang "bonus" amat menyegarkan senyum kami. Irama berlanjut pada tembak-tembakan air yang menembak zombie. Kembali dengan koin yang terjatuh saat kami masukan. Koin dengan momentum yang terjatuh menimbulkan tiket yang banyak. Kami benar-benar terbantu dengan keahlian si Mungil yang sangat sangat terkuasai semerbak bunga.๐
(Ex : foto istriku Si Mungil yang sedang berusaha dengan kehamilannya).
๐ชถ Kilau๐ชถ
Setitik keberhasilan mengutarakan kebahagiaan. Mungkin itu lebih cocok pada sore ini. Kami bertemu ditengah-tengah tempat permainan untuk mengakhiri senandung tawa Hanif yang sumringah. Terlihat dalam genggaman Mungil tiket yang menggulung-gulung. "Ayo kita tukar" ujarku. " Hanif, nanti tukar mainan ya. . Terus makanan, mau gak ?" Mungil menimpali seraya menundukan kepala ke Hanif. Aku berjongkok lalu kugendong Hanif yang masih mencerna. "Bocah empat tahun ini apakah mau ?" Batinku bertanya. Hanif bergoyang-goyang dengan wajah yang lucu dan gigi terlihat. "Mainan yang buanyaak yaaa, mau makanan juga Haniff tapi semuanya punya Hanif yaaaa" jawab Hanif berseloroh setelah termenung diam beberapa detik ditengah kicauan suara mesin mainan.
Sendal jepit menemukan tempat singgah. Didepan meja penukaran tiket kami menyerahkan plastik. S Mungil, Tangan menguraikan ticket. Jari-jemarinya lentik berpencar bagai rekahan bunga, berayun, ikuti lengannya yang bergerak halus; kita-petugas memperhatikan setiap sesuatu yang keluar dari plastik tersebut.
( Ex : Si Mungil menunggu Perhitungan ticket).
๐พ 05.50
Alat penghitung mesin ticket terus berjalan. Aku, mungil dan Hanif yang kugendong menunggu. Satu menit-dua menit dan hitungan waktu berjalan seiring mesin berbunyi yang terlihat tua "Dreeet...drrreeet..drrreeet". Mesin menggemas kelelahan.๐ฅฒ.
Aku mengajak Hanif duduk dibelakang sembari melihat tiket. Hanif yang duduk dan berdiri membuat lututku berserah diri. Kugendong dan kudekati mungil dan selesailah penghitungan ticket yang memakan waktu 30 menit. Kami tak menduga angka di ticket yang kami mainkan tadi 60 ribu dan beberapa bulan sebelumnya tak lebih dari 300 ribu. Main tahun ini hanya 3x. Dasar ..kami memang tak banyak uang untuk menggiurkan keinginan kami yang membukit. Sekali main kami mngkn habis 150 ribu. Setelahnya lebih kecil.
"Coba Lihat dek, Hanif...tiketnya banyak" mataku berkaca-kaca dengan kemampuan Mungil. Terlihat...angka sembilan ribu tujuh puluh sembilan tiket. Mataku melalang buana mencari mainan yang bisa ditukarkan.
Kami menyetuh kaca meja etalase yang tebal. Hanif lalu menunjuk mainan;juga mungil menunjuk Bantal Kecil. Kami merasa euforia kebahagia terbagi kepada seisi dunia.
(Ex: Hanif diberikan mainan yang kebetulan tertutup kepala)
Aku merawat ingatan melalui foto. Hanif tersenyum. Mungil bahagia. Beberapa moment istriku mengamati mainanan.
(Ex: Foto makanan yang dipilah-pilah oleh Hanif dan Mungil)
Hanif memilih beberapa makanan yang telah kami beritahu dalam pembelajaran dirumah bahwa makanan yang kita ambil yang kita ta perlukan dan butuhkan. Sekalipun suka minimalkan coklat dan gula karamel . Bukan tidak boleh tetapi perlu dibatasi dalam konsumsinya. Syukurlah, Hanif memahami hal cukup rumit se-usia ia.
Etalase menyajikan beragam pilihan nominal tukaran tiket dari terkecil sampai 20ribu tiket. Kami mengamati dengan mata yang masih fokus dan menyipit. melihat tanpa bicara terasa haus dan menguras fikiran. Pilihan telah jatuh dalam beberapa barang. ( Ex. mungil menjatuhkan hatinya)
Pada titik akhir aku,mungil, dan Hanif mengakhirkan hari ini dengan pilihan yang membahagiakan, bagaimana tidak ? Kami mendapatkan satu bantal, mainan Hanif, makanan ringan. Fikir ku dan mungil, ingin menukar sembilan ribu tiket dengan 1 barang yaitu Gosokan/setrika seharga sembilan ribu seratus tiket. Namun, kami urungkan dengan dalam dihari kami dengan saling memandang kami berdiskusi bahwa hal tersebut akan membuat Hanif bersedih. Pikirku "biarlah banyak barang yang dipilih dibanding satu barang impian untuk menyenangkan bocah kecil lugu ini" senyum terukir dan kami menyelesaikan Bunga rampai dengan foto.
Kami berfoto untuk mengaksarakan ingatan hari ini. Berbaur dan lalu lalang orang orang dengan malam yang telah menghitam dilangit. Senang dalam jalan kami dan menghargai waktu hari ini membuat aku dankita semakin berwarna. Kami langkah dengan tutup Kilauan hari ini dengan menaiki lift pukul 18.30.
"Langit yang tinggi, mengantarkan fikiran ku, bahwa kita tak sendiri duduk. Ditemani Angin yang menari-nari rambut, menggubris dengan senyum bahwa kita pernah mengukir jejak kecil dalam langkah. Waktu yang dilewati yang membekas dalam ingatan "yang"masih bernafas"
๐ชถ๐ 16.00 (02.12.25)๐ชถ๐ฒ
Komentar
Posting Komentar