Fanny Wants To Be A Daisy Flowers ( Bagian Pertama )
🍁🐦🍁🌼🏵️
(Ex. Di Bandung, 2024)
Seorang manusia berjenis perempuan telah mengandung janin dalam rahim. Saat ini telah berkembang memasuki bulan ke-9 kehamilan. Embun pagi yang mengisyaratkan udara sejuk hari ini membuat kami keluar sekadar berjalan menyapa pagi. Sirkulasi udara yang sejuk menyebar dalam sel-sel darah merah yang bercampur oksigen. "Bagaimana perut kamu Dek ?" Tanyaku sepulang kerja berkeringat. " Alhamdulillah, perutnya gak kontraksi jadi agak enak hari ini" jawabnya tersenyum. Kulihat pantulan stop motion adegan per adegan secara "kohesif" ( hubungan yang serasi atau padu antara satu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu wacana) Hanif mengelus perut Ummahnya diikuti uluran tanganku yang tak sabar mengelus-elus. Ungkapan sayang kami yang ringan pada sore hari itu menyeruak dalam waktu bahagia dan tawa. "Janin" itu bergerak.
Awan menunjukan hari yang berbeda. Bulan purnama malam ini terang, disertai gerimis mengundang. Pada malam hari- Fanny merasakan perut yang kencang, bergerak-gerak. Aku lakukan upaya perbantuan dengan mengambil air, merebus dengan kompor gas. Kutunggui sekian menit. " belum panas airnya ?..." tanya Fanny. " belum, masih agak lama sampai mendidih dek....". Jawabku melirik perutnya yang sudah memasuki kontraksi palsu seiring membesar janin didalam perutnya. Hati dan fikiran berdo'a.
Pintu ruang tengah kontrakan kami dibuka setelah isya. Agar kiranya sirkulasi udara masuk ke dalam, tidak hanya melewati ventilasi yang tersedia. Aku yang termenung, disapa dengan angin lembut yang menggoyangkan rambut-rambutku. Di rumah sederhana ini, angin sepoi-sepoi berhembus lembut melewati pintu, membawa harum bunga yang baru mekar. Anak-anak berlarian sambil tertawa malam ini yang asyik berlibur seakan tidak ada beban di dunia.
Aku tersentak dari renungan alam bawah sadar. Bola mata kecokelatan yang berjumlah dua menatap kembali bibirnya yang tersenyum. Aku bangunkan tubuhku. Aku angkat kaki kanan untuk bertumpu bangkit yang menopang bobot berat diriku 56 Kg. Tulang kering yang sudah memasuki usia, merengek; meminta tidak bersegera bangkit. Langkah kaki yang pelan berjalan kedapur, ditempat air yang kumasak. Aku ambil air panas tersebut lalu kucampur air dingin agar hangat untuk digunakan sebagai kompres perut. "Mudah-mudahan membaik" batinku berkata lirih. "sabar ya Adek Mungil sebentar lagi insyAllah lebih baik..." ujarku sambil berdo'a untuk menangkannya.
🪷🪻🪷 Akhir Tahun Liburan 2026🪷🪻🪷
Alarm yang kupasang "menggigil kedinginan"- lagu melody yiruma menambah sendunya malam "triiing...triiingg... triiing " bunyinya memecah di keheningan malam. Aku membuka mata, melihat-memastikan wanita di sebalah diriku yang sedang beristirahat. Aku bangun dan mengerjakan ibadah malam. Seperti akhir tahun sebelumnya, beberapa hal yang menemani mataku menatap lekat-lekat dirinya ialah aktivitas ia dipagi hari.
Dua bola mata memandang dan melihat ; terdapat dua keadaan, pada pagi hari saat kuberangkat kerja aku bangun pagi-pagi ditengah buta. Aku melihat ia yang sedang mengiris wortel satu demi satu dalam irisan yang tipis, kecil, dan banyak. Hal tersebut dilakukan ketika aku sedang bersiap-siap bersalin dan berpakaian. Fanny si Mungil melanjutkan memotong tempe ketika telah selesai dengan dua buah wortel diiris. Tempe-tahu menjadi adonan dalam satu tepung dibolak-balik diberi bumbu khas dan sajiku. Ia berdiri, melakukan dansa sederhana dengan wajan yang membuka "cooking surface" dengan gagang "handle" yang digenggam. Bahan telah siap dimasukkan. Beberapa menit terlewati dengan Hanif yang sudah bangun lebih awal dengan bermanja-manja di kaki Ummahnya. " Hanif, bisa bergeser ? karena ummah lagi masak". Memang, adegan ini membuat rindu dan kangen di pagi yang masih tenang dan syahdu. Saling bersahutan lewat aktivitas pagi yang dinamis.
Aku mencerna kejadian tersebut sebagai salah satu langkah yang kutempuh. Dalam beratnya usia kandungan, ia tak berhenti untuk tetap menjalankan tugas sederhana demi menyala dapur. Ia berjalan dalam jarak yang tak sedikit dengan membawa buah hati miliknya, Hanif. Ke warung, ke bawah, dan ke tempat yang Hanif ingin kunjungi. Terkadang, jika jam pulang aku telah tiba ia menceritakan hal tersebut. Membuat kepalaku menyut karena membayangkan jauhnya ia berkeliling.
"Kenapa kamu jauh sekali jalannya...?" Tanyaku sepulang kerja. " Hanif yang minta keluar, biar lahirannya lancar dan mudah bukaan. Seneng dan bisa jalan pagi yang masih sepi..." jawabnya sembari menyuapi Hanif yang membaca buku Atlas Dunia.
Keadaan kedua ; saat aku berlibur dari rutinitas pekerjaan. Aku memperhatikan kembali dengan seksama. Kehamilan ia yang kedua ini membawa berat yang tak ringan. Dalam membungkuk, ia mengalami kesulitan. Dalam berjalan, ia mengalami susahnya melangkah meski dekat dan tak jauh. Jika ia mengalami kesakitan, aku memposikan diri untuk membantu meski hanya sekadar mengusap-usap telapak tangan yang sudah tak lagi muda dalam balutan usia.
Fanny, telapak tangannya membelai perutnya yang telah terisi dengan janin usia sembilan bulan. Mencuci pakian dan piring kotor yang kulakukan saat liburan mungkin dapat membantunya. Dalam beberapa kesempatan ia pernah menyampaikan tentang sikapnya mencuci pakaian anak kami، Hanif. Bahwa, tak ada loundry untuk pakaian itu dan pakaian kerja agar pahalanya mengalir. Terdengar pemikiran yang klise tentang terdampak ekonomi yang mulai tak karuan namun, ia ada benarnya. Barangkali, aku melihat ia mencuci pakaian Hanif yang bertumpuk-tumpuk sebagai do'a ia pada anaknya. Perutnya, yang kian telah siap melahirkan menunjukan ia tak pernah absen/berhenti dari tugas rumah saat aku bekerja hingga pulang kembali dalam pelukan dan keringat. Fanny, menjadi pribadi yang " mandiri" ketika aku belum libur akhir semester.
Mudah-mudahan, aku dapat selalu disisi dirimu serta "hadir". Bukan sekadar ada.
Untukmu, Flower Mungil milikku. Kamu saat ini sedang menenun untuk menjadi kepompong yang indah🪻
🪷izinkan aku, lagi dan lagi untul terus mengenangmu, mengingatmu, dan menjaga dirimu dalam kebaikan Ya Allah🪷
( Bagian pertama Selesai). . .
Komentar
Posting Komentar