Pundak yang Berlalu Pergi🫀 ( Bagian Satu)

( 11 Maret 2026🥀 )

Kala pagi itu, saat Matahari menunjukan cahayanya yang bersinar. Aku berangkat untuk mulai mengendarai motor untuk bekerja. Aku berpamitan dengan Istriku. Dijalan, kakiku terasa tak nyaman.kugerak-gerakkan sambil melihat kanan-kiri. Sesampainya disekolah aku bersiap turun dari motor dan menuju ruang kantor. "Triing. . .triing. ." Bunyi hp-ku yang kusimpan disaku. Aku duduk di bawah dan kubuka "pesan gugur" wafatnya seorang Bapak.

Aku hening . . . Diamku yang mengalir lewat nafas yang tak seirama. Membaca lagi mataku, pesannya tak berubah. " Kamu dimana. . . ? kamu baik aja . . . ?" Tanyaku agar aku bisa memastikan posisi.

( Foto Bapak dan Keluarga Kecil Kami )

Aku keluar ruangan untuk mencari udara lebih terbuka. Angin menerpa wajahku perlahan dengan cahaya matahari yang menerangi setengah wajahku dengan lembut, namun hangat. Aku kernyitkan dahiku, aku tarik nafas. Tanganku mencoba menelfon dengan harapan mendapat jawaban balik. "Aku nanti dijemput, masih dirumah siap-siap". Kami memiliki dua anak, pertama berumur 4 Tahun 9 Bulan dan kedua berumur 2 bulan. Setelah obrolan yang membuat dada sesak. Aku meminta izin untuk pulang. Segera. Ingin kupeluk istriku yang menangis dalam tatapan mata yang tak menengok, suara serak dan nafas berat mungkin belum cukup menggambarkan suasana duka pada sekitar.

🏷 Menyentuh🏷

Pagi itu langit mendung seperti menahan sesuatu yang akan tumpah. 

Alas kaki kulepas setiba memasuki rumah. Aku lewat pintu belakang yang menuju ruang tengah. Aku dapati orang-orang memenuhi seisi ruang yang biasanya lengang tak dipadati anak-anak rumah ini. Tapi, kini banyak orang. Fanny berdiri, benar-benar menangis dipojok yang bukan hanya kata.

Aku menarik nafas. Menguatkan jantung untuk tak berbunyi tergesa-gesa. Membesarkan paru-paruku agar menerima lebih banyak udara. Aku dekatkan telingaku. Kugapai tubuhnya yang lemas ubtuk kupeluk. Suara lirih darinya " bapak meninggal. Aku tak punya bapak lagi. Bapak udah gak ada. . .!" Aku mengikuti tangisannya. Kuusap punggungnya dalam kedukaan yang dalam. Air mata yang menetes yang membangunkan kesendirian dalam kehangatan bapak yang telah mendahului. Aku dekatkan diriku kepada jenazah bapak. Kupandangi tubuhnya yang mulai menua diumur senja. Aku ingin membuka wajahnya tapi tak kuberanikan diri ini. Aku melihat dengan kesedihan. Tatapan dengan bingkai-bingkai kenangan. Kusentuh kakinya yang sudah dingin.

🏷 Untuk Kacamata yang usai🏷

Komentar