🌹Fanny Puspitarini, Si Sendu Menawan( Sebuah Kenang-kenangan) 🌬🌼☁️Awan Cumulonimbus☁️🌼



🌹Fanny Puspitarini, Si Sendu Menawan
( Sebuah Kenang-Kenangan) 🌬

🌼☁️Awan Cumulonimbus☁️🌼

Beberapa hari belakangan kotaku terserang dingin yang amat sangat. Aku yang terbiasa dengan dinginnya iklim di desa kecil terasa sangat menggigil. Kipas angin yang biasa aku nyalakan sekarang tertunduk tanpa suara. Selimut yang tertidur sendirian di lemari segera kubangunkan.

"Angin sendu yang terbawa dari langit dingin menusuk-nusuk kulit. Mengantar sang surya ke peraduan. Lembayung sutra berpendar di antara cumulus yang meredup"

"Sepertinya nanti hujan" ujarku. Awan hitam mengantung di langit berwarna pekat. Berat. Seperti akan menumpahkan semua beban ke dataran yang telah dingin dan berbukit-bukit yang hijau pohon. " itu awan Cumulonimbus yang artinya awan hujan" terang Fanny yang menunjukan jari telunjuknya

Ku lihat awan diatas lekat-lekat. Kian lama awan kian berat. Mungkin tak lama lagi akan turun hujan. Aku tak sabar berfoya-foya dengan air yang sangat melimpah. Ku tak tahan dengan setengah dingin namun tak basah.

Waktu berlalu, memancarkan mata berbinar-binar. Rongga hidung yang kumasuki dengan oksigen menunggu giliran bau tanah yang semerbak. Tetes- tetes hujan turun membasahi bumi. Rinai tetes air malu-malu membunyikan genteng coklat rumah yang kami tinggali. Tanah yang coklat menunggu asupan nutrisi langit, daun yang hijau menyantap makanan lezat sesudah "fotosintesis" dari terik matahari siang bolong tanpa awan Cumulonimbus. Barangkali, air bagi tumbuhan sesuatu yang tak dapat dipisahkan.

'Alhamdulillah, hujan ya dek," ujarku menengok padanya dengan bersyukur. Aku menadah air di telapak. Kurasakan mengalir bulir-bulir seukuran biji semangka seperti kesukaan Fanny. Merah-merona si sendu menawan. Nafasku mencium aroma tanah yang kering nan lama kuhirup dengan mata kupejam.

Sekejap. Air tetes yang kuanggap terakhir membasahi tanah, rumput dan pohon Mangga yang ku "mandirikan" namun tetap tumbuh kokoh. Daun-daun hijau yang tampak layu berjatuhan dalam sentuhan lembut air hujan  itu, mungkin akan segera menyusul menjadi pupuk bergizi tinggi bagi tanah. Hujan berhenti. Rupanya, dia hanya menggoda kami.

Ketengok, Fanny di belakangku mengulum senyum yang ia buat. Sedari awal aku berfirasat ia akan berdiri menunggu hujan bersamaku. " hanya sekejap" batinku mengiyakan ucapanku. Awan yang tergulung-gulung  masih berpesta semi diatas sana. Pukul 02.09 WIB ( 14.09) kami akan melekatkan telapak kaki dalam alas sendal dan kaus kaki. Aku berdialog sesaat dengan Fanny. "Awan Cumulonimbus itu masih ada Mas, terik matahari terasa teduh" Ujarnya.

"Aroma tanah masih terasa, Matahari berkelalakar menentramkan awan Cumulonimbus. Mencoba bernegosiasi untuk meniadakan tetes air yang membasahi tanah. Seperti hendak bercerita basahnya luka yang pulih akan gelapnya langit. Matahari bersembunyi hendak membisiki kehadirannya yang hangat setelah hujan. Mencoba kembali memotret wajah kami dibawah langit yang Sendu Menawan. Awan Cumulonimbus berkempul dengan sifat bersahabat nan bersenda gurau namun menyakinkan".

Aku langkahkan kaki berjalan untuk memulai dengan Fanny , " udaranya sejuk, tak panas dek" ujarku. Kita pertemukan sudut bulat pupil kita di perjalanan kembali. Ia mengiyakan. Aku menyukai aroma, suasana, udara dan suhu saat ini. Aku genggam tangannya. Bersyukur, ku basahi bibirku pada Sendu Menawan. Tumbuh-tumbuhan yang berpakaian Semi sangat menyukai udara ini untuk hidup dan tumbuh kembali.

🌹Fanny Puspitarini, Si Sendu Menawan
(Sebuah Kenang-kenangan)🌹

29 Januari 2025, ia Telah menjalani Awan Cumulonimbus yang mungkin terputus-putus atau tersambung-sambung.

Selamat bertambah Tahun yang Ke- 420 Bulan☘️✨️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fanny Wants To Be A Daisy Flowers ( Bagian Pertama )

🌲 16.00.🌲

"Suryakanta, Temukan Kehangatan Seperti Matahari Terbenam yang Memeluk Bumi". ( Ricky Prabowo)