🍁🐦🍁🌼🏵️ (Ex. Di Bandung, 2024) Angka Kalender telah menunjukan Sebelas Desember 2025. Desember ini adalah bulan hujan. Suhu udara di daerah ku menurun hingga 24° Celcius. Dingin mengudara. Semerbak air dan tanah berjatuhan saling menyapa hingga membahasahi dan menyerap air Sang Pemberi Hujan yang menyayangi. Langit yang tinggi tak pernah dapat memeluk tanah ( Bumi) meskipun dua entitas yang sama-sama tumbuh di tempat berdampingan. Tanah yang selalu siap menyeka air yang bergejolak setiap musim. Berpetir, berderai air mata, langit sendu menawan yang merindukan di kala siang hari terasa sejuk. Seakan berakata ' aku siap menyelami kehidupanmu' Seorang manusia berjenis perempuan telah mengandung janin dalam rahim. Saat ini telah berkembang memasuki bulan ke-9 kehamilan. Embun pagi yang mengisyaratkan udara sejuk hari ini membuat kami keluar sekadar berjalan menyapa pagi. Sirkulasi udara yang sejuk menyebar dalam sel-sel darah merah yang bercampur oksigen. ...
Tiket Yang sedari kemarin tergantung di tembok depan kamar. Kesepian dalam balutan ruang yang kami isi dalam keseharian. Kebetulan Fanny si Mungil menyuarakan ide untuk menukarkan tiket tersebut. Fikiran diriku setuju karena tiket ini sudah lama ingat si Mungil menghabiskan lebih kurang 200 ribu itupun sudah bulan Juni tahun ini. Tibalah saat aku menggoyangkan motorku dari tempat parkiran hari ini. Pukul 16.00 aku melayangkan kaki yang aku jejaki. Kuremas gas yang sedari pagi telah aku hidup-kan untuk menapaki aktifitas rutinku sebagai "Gemar Memoles Cangkir". Aku sedang memasang foto diriku yang bersiap. Saat diperjalanan aku menikmati mobil-motor didepanku. Nafas vital yang tak kenal lelah dengan deru angin yang pelan. Angin berbisik dengan aksen yang menyenangkan yang membuatku tak menangis lagi. Ia memainkan musiknya sendiri dengan irama wajah tersenyum. Sampailah aku dirumah. Istri dan anakku telah menunggu didepan gang dengan skenario yang tak sama seperti ...
Matahari mengantar sinarnya turun ke daratan dengan malu-malu. Menatap diriku dengan tajam menyilaukan mata. Pada pukul 08.55 bertanggal kalender 25 Maret 2026 . Aku ayunkan kakiku dengan bobot badan 56 Kg menuju motor, kuhidupkan mesin. Ban berputar menyapu jalanan ke Perpustakaan Provinsi Daerahku. Senyumku lebar setiba ditempat. Mengingat kembali tentang rak terisi buku ( perpustakaan). Dompetku telah menyelami "kartu hidup tak bicara" tentang perpustakaan sejak tahun 2013. Mataku lebih sipit dan jantungku bergemuruh melihat kembali kartu-kartu ini. Ada debu jalanan yang menjadi teman setiap keberangkatan. Gambar 1 : Kartu Perpustakaan Provinsi Kartu hidup ini adalah idola dalam merawat ingatan. Ia sering kugandeng menjadi pelipur lara saat "kemarau" bahan bacaan. Euforia-ku mengingat dalam guratan usia kartu ini. Hari itu langit gelap, seakan menahan sesuatu yang berat. Aku masuk ke Perpustakaan Provinsi Lampung untuk mendaftar menjadi salah satu b...
Komentar
Posting Komentar